09 Juni 2010

Sehari Bersama Billy Blanks

Osh, Senpai Guntur (DAN IV Karate) salah seorang pelatih di Dojo Ketewel Sukawati Gianyar berkesempatan latihan selama sehari bersama dengan Billy Blanks (DAN VII Karate).
Billy adalah Juara Dunia Karate sebanyak 7 kali dan memperoleh 36 Medali Emas dalam kejuaraan-kejuaraan internasional dan juga merupakan seorang Bintang Film Holywood.
Billy mengadakan lawatan ke Bali dalam rangka liburan serta mengisi beberapa kegiatan amal untuk pendidikan anak-anak yang kurang mampu di Bali.
“Saya banyak mendapatkan masukan dan diajarkan tentang pengalaman-pengalamannya dahulu dalam bertanding serta teknik kepelatihan terutama Kumite. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan YME atas kesempatan yang jarang terjadi ini” kata Senpai Guntur.
Osh, Guntur

06 Juni 2010

Latihan Bersama MSH Lemkari Bali

Latihan Bersama Majelis Sabuk Hitam Lemkari Bali telah diselenggarakan pada tanggal 30 Mei 2010 bertempat di GOR Rai Sandhi, Batubulan, Gianyar. Latihan ini dihadiri oleh ± 80 MSH Lemkari Bali. Dipimpin langsung oleh Ketua Harian (Sensei A.A. Nanik Suryani) dan Ketua MSH (Sensei I Wayan Ardika, S.Sos) Lemkari Bali. Latihan Bersama yang dilaksanakan sejak pukul 08.00 wita sd. 14.00 wita ini dimaksudkan pula untuk:

  • Penyeragaman Gerakan Kihon dan Kata Dasar (Kata 1 sd. 5) sebagai persiapan penyelenggaraan Gashuku Lemkari Bali di Gianyar pertengahan Juni 2010
  • Pembahasan pemberangkatan Tim Atlet Karateka Bali yang berjumlah ± 9 orang ke Kejuaraan Piala Mendagri XIV & Piala Mendiknas III Tahun 2010 di Makassar pada tanggal 24 Juni 2010
  • Mempersiapkan penyelenggaraan Kejuaraan Piala Ngurah Rai Cup pada Bulan Desember 2010 yang rencananya akan diikuti oleh Malaysia dan Brunei Darussalam.

03 Mei 2010

Bertempat di Lapangan Denzipur Gianyar, pada Minggu Pagi 2 Mei 2010 para Karateka Lemkari Gianyar menyelenggarakan kegiatan rutin bulanan yaitu Latihan Gabungan Antar Dojo Se-Kabupaten Gianyar. Latihan yang dimulai sejak pukul 7.30 WITA ini berakhir hingga pukul 10.30 WITA ini, dihadiri oleh ratusan karateka Lemkari Gianyar termasuk MSH-nya.

Selain pemantapan dan penyeragaman gerak di lingkungan Lemkari Gianyar, even ini juga dijadikan ajang untuk mencari bibit karateka baru sebagai penerus karateka-karateka senior Lemkari Gianyar. Sehingga diharapkan prestasi yang telah diraih oleh Lemkari Gianyar selama ini tidak terputus, bahkan harus dapat lebih meningkat. Juga Latgab ini dijadikan Pra Gashuku Lemkari Bali yang rencananya akan diselenggarakan pada pertengahan Juni 2010 mendatang, dimana Lemkari Gianyar akan menjadi 'Tuan Rumah' dari pelaksanaan Gashuku tersebut.

Semoga dengan terselenggaranya Latgab Lemkari Gianyar ini akan membawa keberhasilan pula bagi event-event lainnya yang akan diselenggarakan di Gianyar-Bali, dan para 'Karateka Muda' yang telah terpilih menjadi 'Duta' Lemkari Gianyar dapat memacu semangat berlatihnya untuk mempertahankan (bahkan meraih) prestasi yang lebih tinggi lagi, OSH.

" Hidup Lemkari Gianyar - Jayalah Lemkari"

15 Maret 2010

Selamat Hari Raya Nyepi

Segenap Pengurus Lemkari Kab. Gianyar mengucapkan:

Selamat Hari Raya Nyepi - Tahun Baru Saka 1932/2010 M

Dalam kesenyapan hari suci Nyepi ini, mari kita mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta.

Mari kita laksanakan Berata penyepian upawasa (tidak makan dan minum), mona brata (tidak berkomunikasi), dan jagra (tidak tidur). Dan esok hari (hari raya Ngembak Geni), mari segenap keluarga kita keluar dan bermaaf-maafan dengan tetangga dan handai tolan yang ditemui, dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan.

28 Februari 2010

Hari Raya Saraswati

Hari Saraswati yang jatuh pada hari Sabtu (Saniscara) Umanis wuku Watugunung, dirayakan sebagai hari pawedalan Hyang Aji Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan suci. Perayaan ini dilaksanakan sebagai ungkapan puji syukur dan puja kepadanya-Nya atas diturunkannya ilmu pengetahuan suci bagi umat manusia; disamping memohon kelanggengan ilmu pengetahuan dan dapat berjaya di bidang Iptek. Pada malam harinya, dilaksanakan "sambang samadhi" dan pembacaan lontar, pustaka, kitab-kitab suci dengan harapan dapat menemukan Saraswati di dalam diri.

Dewi Saraswati adalah Shakti dari Dewa Brahma, patheon Hindu sebagai personifikasi Hyang Widdhi dalam penciptaan. Didalam Weda, Dewi Saraswati disebut sebagai Dewi Kebijaksanaan dan Dewi Sungai. Dalam Purana dan Itihasa-lah Dewi Saraswati disebut-sebut sebagai Shakti dari Brahma.

Kata Saraswati berasal dari urat kata Sanskerta 'sr', yang berarti mengalir. Dalam Rg Weda V.75.3. beliau disebut sebagai Dewi Sungai, disamping Gangga, Yamuna, Susoma dan lain lain. Dalam pengarcaan (ikonografi), beliau digambarkan sebagai seorang Dewi cantik berkulit putih bersih, dengan prilaku yang lemah lembut. Busana putih gemerlapan dikenakan-Nya, bersinggasanakan padma (teratai). Beliau juga digambarkan bertangan 4, yang masing-masing memegang Wina (kecapi), Aksamala (tasbih), Damaru (kendang kecil), dan Pustaka suci.

Angsa (Hamsa) dan Merak seringkali menjadi wahana dan atribut simbolis dalam pengarcaan. Ia merupakan motif yang amat populer dalam tradisi simbolis Hindu. Ia dapat dilihat sebagai ragam hias, penghias lampu-lampu minyak yang digunakan di pura-pura, mandir-mandir dan di rumah-rumah penduduk India. Angsa, juga mempunyai keterkaitan yang khusus dengan filsafat Advaita, yang dicetuskan oleh Sri Sankaracarya. Para Guru Agung dalam tradisi Advaita juga disebut dengan Paramahamsa, para Angsa nan Agung.

Seperti juga angsa-angsa yang berenang seharian di telaga tanpa membasahi bulu-bulunya, demikian pula para Advaita-Vaidantin, diharapkan hidup biasa-biasa saja di dunia ini, namun tak terombang-ambing oleh pasang-surut duniawi. Ia juga melambangkan penguasaan Viveka yang baik serta Vairagya yang sempurna, angsa dapat memilih dan memilah serta menyarikan susu dari lumpur. Ini adalah substansi yang amat esensial bagi seorang Advaitin, oleh karenanya pula ia melambangkan 'Jivanmukti', beliau yang telah mencapai 'Kebabasan Mutlak' sementara masih dalam jasad manusia. Demikianlah Angsa, meyimbulkan kebijaksanaan dan pengetahuan suci, sedang merak melambangkan keindahan dan keangunan dari pengetahuan itu sendiri.

Sarasvati juga disebut dengan 'Sarada' (yang menganugrahkan sari kehidupan), 'Wagisari' (dewi kebijaksanaan dan wacana), 'Bharati' (kebudayaan luhur atau pelaksana tapa-brata yang sempurna) disamping 'Brahmi' (Shakti Brahma) dan Savitri serta sebutan lainnya.

Sebagai Dewi Wagisari, pada suatu ketika, beliau ditugaskan untuk mengalihkan permohonan Kumbhakarna - raksasa pertapa adik Rahwana - oleh sidang para dewa. Permohonan Kumbhakarna terlampau berat dan berlebihan bila dipenuhi, bagi 'soroh' Raksasa; pemenuhan itu dinyana dapat merusak konstelasi dan kedamaian semesta. Oleh karenanyalah Dewi Wagisari ditugaskan untuk mengalihkan permohonannya, melalui menempati lidah Kumbhakarna, ketika permohonannya disampaikan.
Menyimpang dari maksudnya semula, ketika saatnya ia menyampaikan permohonan kepada Brahma atas tapanya yang teguh, ia memohon: "Anugrahi hamba agar dapat tidur terus menerus selama bertahun-tahun". Demikian dikisahkan dalam Ramayana, terkait dengan keberadaan Saraswati sebagai Dewi Kebijaksanaan dan juga Dewi Wacana.

Tanpa pengendalian yang baik atas tutur-kata kita, oleh Kebijaksanaan dan Kemurnian Nurani, apa yang kita ucapkan dapat berubah dari maksud semula. Tak jarang salah dalam bertutur kata dapat berbuah dendam, permusuhan bahkan malapetaka bagi kita. Sebaliknya, Savitri (juga nama lain dari Saraswati), titisan Saraswati sebagai seorang putri raja yang suaminya dalam keadaan sekarat menjelang ajal, berhasil meluluhkan hati Dewa Yama melalui wacana-wacana berpengetahuannya. Yama-pun tak punya pilihan lain kecuali mengabulkan segala permohonan Savitri.

Akhirnya, Setiavan - sang suami yang putra raja - itupun hidup kembali; mewarisi singgasana sebagai penerus dinasti orang tuanya lengkap dengan 100 orang putra, mertua Savitri memperoleh kembali kerajaannya yang hilang dan sembuh dari kebutaan yang dideritanya, dan orang tua Savitri-pun dianugrahi 100 orang putra guna meneruskan dinastinya. Itu dituturkan dengan cantiknya dalam Pativrata-Mahakamya Parva, salah-satu subparva dalam Vana Parva.

Banyu Pinaruh, Sublimasi Pengetahuan Suci.

Saraswati juga dimaknai dengan mengupayakan secara mandiri (swa) kesucian hati, melalui "Sambang-Samadhi" serta mempelajari (membaca dan melagukan) dan merenungkan ajaran-ajaran dalam pustaka-pustaka suci semalam suntuk.

'Sambang Samadhi', diduga merupakan pergeseran pelafalan dari 'Samma/Samya Samadhi', yang berarti 'melaksanakan tapa-brata-yoga-semadi dengan baik dan benar'. Membaca pustaka suci semalam suntuk, lebih menyimbolkan mengamati (membaca) dengan cermat gerak hati sendiri (swa-hati), guna pensuciaannya serta penyelarasan antara pikiran dan ucapan. Upaya pensucian ini, lebih dipastikan dengan datangnya "Banyu Pinaruh" pada ke-esokan harinya.

Saraswati dan Banyu Pinaruh ibarat paket yang tak terpisahkan. Banyu, air, toya, tirta merupakan air suci yang merupakan intisari 'pinaruh', 'pinaweruh' atau pengetahuan batiniah. Dengan melaksanakan pensucian batin semalam suntuk melalu Samya Samadhi, serta disucikan dengan intisari pengetahuan suci (banyu pinaweruh), diharapkan tumbuh dan berkembangnya kebijaksanaan kita.

Jadi, dari rangkaian hari-hari Saraswati dan Banyupinaruh, diharapkan suatu pemaknaan serta disikapi dengan 'melaksanakan tapa-brata-yoga-semadi dengan baik dan benar, guna mensucikan dan menselaraskan pikiran, ucapan dan perbuatan. Sadhana inilah yang memungkinkan saripati pengetahuan (Jñana) tersublimasi menjadi Kebijaksanaan (Prajña).'

Selamat Hari Raya Saraswati
Semoga Cahaya Suci-Nya senantiasa menyinari dan menerangi hati kita semua.
Sumber: http://www.iloveblue.com, Wikipedia Indonesia & www.babadbali.com